Aku Kira Berfilsafat

(I)
Anak mungilku bermuram muka,
tatkala kutengok ia separuh rupa.
Manalah bisa hati tak teriris, sakit
lihatnya bagai si lara menahan pahit

Celotehnya kuharap untuk mengobat
yang diinginkannya perlulah aku taat,
bagai rindu di siang jumat.

Sementara ini waktu tepat senjakala,
ia berdiam depan pintu muka kosong
tapi mata hendak menyuara pula.
Biar kuikuti maunya melolong.

(II)
“Aku rindu pada gesekan, sandal butut beradu
“dengan bumi yang kudengar kala kecil dulu.”

Apa ini?
Setan mana lagi?
Jangan ambil ia punya hati!
Cukup aku rasakan kelucuan duniawi.

(III)
“Ke mana mereka, Bunda? Aku lupa,
“tak tahu aku apa hendak mau manusia.”

Anakku, kau sudah besar, Nak. Kawan
sudah berganti, datang baru pergi lagi
terus digerus ulang-alik kehidupan
punya banyak cerita hiasan elegi.
Dini hari tadi baru saja aku bermimpi,
kau memakai baju dasi amat rapi.

(IV)
“Aku rindu pada bunyi, pun sandal
“yang temani kala aku nakal,”

“Aku berpikir, maka aku ada,
“tapi sandalku sudah tiada.”

(V)
Apa katanya?
Anakku bersuara beda. Seperti
aku tahu Descartes yang punya kata
sehebat itu manusia berpikir lagi?

(VI)
“Aku bersedih sandalku hilang,
“tak ada lagi kudengar suara lantang,”

“Sebab, sandal itu punya orang. Yang
“kuambil saat khidmat jumat siang.”

Terserah kau punya hidup, Anak Muda!
Kau tak pernah sembuh betul dari belahan dada

 

Wangon, 13 April 2017

Pulanglah!

Pukul 4 sore, di dalam biliknya atap ijuk
Selintas saja wangi penggugah selera, nikmat pisang goreng.
Kau tergopoh-gopoh, lambat jalan, mulut terkatup
Di ujung peron, lemah lakumu di balik dunia gendeng
Hampirilah itu Ibu Tua!
Kau hilang segala bebanmu
Terbantulah si Ibu,
Untuk Irna yang meminum susu

Nanda, pulanglah!
Waktumu t’lah larut malam; mencekam teriring tangis
Tak akan hilang heroikmu hanya karena himpitan sejarah
Biarkan serabut-serabut sesal terkubur bersama amarah
Dukamu, laramu, tangismu mengekor sejajar alur rel kereta
Segera satir menghilang luka
Terpanjatkanlah doa, mulut kecil seakan merapal mantra
Hilanglah kau punya kecemasan, binasa membumi rata.
………………………

Pulanglah! Pulanglah! Dengan sejuta cerita.

Purwokerto, 11 Oktober
12.28