Ilmu Sastra

Ilmu sastra terdiri atas tiga bidang: teori sastra, sejarah sastra, kritik sastra. Yang dimaksud ilmu sastra biasa dikenal dengan general literature.

Ilmu sastra adalah ilmu yang menyelidiki tentang karya sastra secara ilmiah dengan berbagai gejala dan masalah sastra. Sedangkan sastra adalah lembaga social yang menggunakan bahasa sebagai medium, dan bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial.

Dalam “Pemandu di Dunia Sastra” (Hartoko, 1985: 25), definisi ilmu sastra yaitu meliputi semua pendekatan ilmiah terhadap gejala sastra. Objek ilmu sastra ialah unsur kesastraan, unsur yang menyebabkan sebuah ungkapan bahasa termasuk sastra. Di samping unsur-unsur bahasa (struktur, gaya, fungsi puitik), faktor-faktor historiko-pragmatik dan psiko-sosial juga memainkan peranan (misalnya, unsur rekaan dalam komunikasi bahasa, perkembangan dalam pengertian sastra, dsb)

Cabang-cabang ilmu sastra dapat dibedakan menurut sifat dan lingkup sebuah objek yang diteliti, serta sifat metode (kognitif, cara pengetahuan) yang dipergunakan. Mengenai cara pengetahuan dapat dibedakan ilmu sastra teoretis dan terapan, yaitu teori sastra (disebut juga ilmu sastra umum) dan pengkajian teks. Mengenai sifat dan objek yang diteliti dapat dibedakan antara kritik sastra (yang meneliti satu teks) dan sejarah sastra, serta ilmu sastra perbandingan.

Menurut Philiph August Boeckh, ilmu sastra atau studi sastra selaras dengan filologi. Dalam bukunya yang berjudul “Encyklopadie und Methodologie der Philologischen Wissenschaften” (1887), dia menjabarkan bahwa filologi sebagai knowledge of the known. Beberapa bidang yang termasuk adalah studi sastra, bahasa, seni, politik, agama, dan adat istiadat.

Namun, ilmu sastra memiliki istilah umum yang sering dipakai yaitu, literary scholarship (“ilmu sastra”) dan “filologi”. (Wallek-Werren, 1977: 34) Filologi yang sering dikaitkan dengan studi linguistik, tata bahasa historis, dan bahasa kuno. Karena istilah tersebut memiliki banyak pengertian, lebih baik tidak memakainya untuk mengacu pada studi sastra.

Sastra, Apa Itu?

Sebelum jauh saya mencoba menguraikan pemahaman mengenai sastra, ada baiknya kita tengok sebentar pengertian sastra menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

sas.tra: (n) bahasa (kata-kata gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari)

ke.su.sas.tra.an: (n) ilmu atau pengetahuan tentang segala hal yang bertalian dengan susastra.

Sastra (Sanskerta: Shastra) merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta, yang berarti teks yang mengandung instruksi atau pedoman , dari kata dasar sas- yang berarti “instruksi” atau “ajaran”. Dalam bahasa Indonesia, kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. (wikipedia)

Teori sastra menurut Rene Wellek & Austin Warren, bahwa sastra adalah suatu kegiatan kreatif sebuah karya seni. Setiap karya sastra pada dasarnya bersifat umum dan sekaligus khusus.

Bahasa sastra yang bersifat ekspresif dan imajinatif, berusaha membujuk, memengaruhi, dan akhirnya mengubah sikap pembaca.

Istilah sastra sebagai karya imajinatif di sini tidak berarti bahwa setiap karya sastra harus memakai imaji (citra). Di bawah pengaruh Hegel dalam Wellek-Warren (1997: 21), mereka memberi batasan bahwa semua karya seni adalah the sensuous of shining fourth of the idea (bersinarnya ide secara indrawi). Aliran lain menganggap semua karya seni adalah karya yang nampak.

Jika secara etimologis, sastra merujuk kepada kesusastraan. Dapat dipahami pengertian yang beragam dengan menarik satu benang merah bahwa sastra atau susastra itu bermakna tulisan atau karangan yang bagus. Namun, secara terminologi definisi sastra yang muncul selalu tidak memuaskan (J.V Luxemburg-Willem G.W: 1986).

Karya sastra berarti karangan yang mengacu pada nilai-nilai kebaikan yang ditulis dengan bahasa yang indah. Tertulis berdasarkan struktur dan pola yang berlaku pada wilayah sastra itu sendiri. Sastra memberikan wawasan yang umum pula khusus tentang masalah manusia atau sosial, maupun intelektual dengan caranya yang khas. Pembaca sastra dimungkinkan untuk menginterpretasikan teks sastra sesuai dengan wawasannya sendiri.