Sastra, Apa Itu?

Sebelum jauh saya mencoba menguraikan pemahaman mengenai sastra, ada baiknya kita tengok sebentar pengertian sastra menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

sas.tra: (n) bahasa (kata-kata gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari)

ke.su.sas.tra.an: (n) ilmu atau pengetahuan tentang segala hal yang bertalian dengan susastra.

Sastra (Sanskerta: Shastra) merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta, yang berarti teks yang mengandung instruksi atau pedoman , dari kata dasar sas- yang berarti “instruksi” atau “ajaran”. Dalam bahasa Indonesia, kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. (wikipedia)

Teori sastra menurut Rene Wellek & Austin Warren, bahwa sastra adalah suatu kegiatan kreatif sebuah karya seni. Setiap karya sastra pada dasarnya bersifat umum dan sekaligus khusus.

Bahasa sastra yang bersifat ekspresif dan imajinatif, berusaha membujuk, memengaruhi, dan akhirnya mengubah sikap pembaca.

Istilah sastra sebagai karya imajinatif di sini tidak berarti bahwa setiap karya sastra harus memakai imaji (citra). Di bawah pengaruh Hegel dalam Wellek-Warren (1997: 21), mereka memberi batasan bahwa semua karya seni adalah the sensuous of shining fourth of the idea (bersinarnya ide secara indrawi). Aliran lain menganggap semua karya seni adalah karya yang nampak.

Jika secara etimologis, sastra merujuk kepada kesusastraan. Dapat dipahami pengertian yang beragam dengan menarik satu benang merah bahwa sastra atau susastra itu bermakna tulisan atau karangan yang bagus. Namun, secara terminologi definisi sastra yang muncul selalu tidak memuaskan (J.V Luxemburg-Willem G.W: 1986).

Karya sastra berarti karangan yang mengacu pada nilai-nilai kebaikan yang ditulis dengan bahasa yang indah. Tertulis berdasarkan struktur dan pola yang berlaku pada wilayah sastra itu sendiri. Sastra memberikan wawasan yang umum pula khusus tentang masalah manusia atau sosial, maupun intelektual dengan caranya yang khas. Pembaca sastra dimungkinkan untuk menginterpretasikan teks sastra sesuai dengan wawasannya sendiri.